|  | ko-toko.com | | Traditional Heritage of Jogjakarta and Madura |
|  | |
| Khasiat berbagai jamu buatan Ny. Kalsum Z, Sumenep Madura
1. Jamu Delima Putih Super (buatan oleh Ny. kalsum Z, Sumenep Madura)
Menyembuhkan segala penyakit keputihan dan akibat-akibat nya.
Memberikan keharmonisan Suami Istri
Menjadikan wajah tetap luwes, ayu dan awet muda, juga menghilangkan bau keringat (bau badan)
2. Jamu Sari Rapet Super
Merapatkan Liang Vagina, memberikan keharmonisan dalam hubungan suami istri.
Menyembuhkan segala penyakit keputihan.
Membuat Tubuh tetap singset, menghilangkan bau badan dan melancarkan haid
3. Jamu Sirih
Menghilangkan Bau keringat (bau badan), menjadikan wajah selalu cerah dan luwes dalam
pergaulan serta bergairah, daya kerjanya sangat cepat dan aman serta tidak membawa efek samping
4. Jamu sehat lelaki
Terutama bagi laki-laki yang lemah syahwat, memulihkan semangat tua menjadi muda, menguatkan
daya fikir dan daya tahan tubuh, melancarkan peredaran darah. Daya kerjana cepat dan aman.
Memberikan kebahagiaan lahir dan batin dan menyembuhkan pegall linu
5. Jamu Galian Singset (produk madura sari)
Mengurangi kelebian lemak dalam tubuh sehingga tubuh menjadi singset, langsing dan awet muda,
menjaga agar badan tetap segar, sehat dan padat, mengurangi bau mulu dan bau keringat yang kurang sedap menghaluskan kulit supaya keliatan lebih bercahaya / bersinar
6. Jamu Kecantikan (produk madura sari)
Menjaga badan agar tetap segar dan awet muda, mengencangkan tubuh dan menghidupkan
kembali urat-urat dan buah dada yang kendor
7. Dupa Wangi
Membuat wangi ruangan, baju penganten dan lain-lain
|
Komoditas bentul atau sejenis tanaman ubi-ubian kini tak asing lagi di Madura khususnya di Kabupaten Sampang dan Pamekasan. Kripik bentul dengan Kombinasi konsumsi di kukus ini benar-benar berasa di lidah. Kerenyahannya telah dijadikan tangan pelancong jika menuju tanah Jawa.
Sri Warninda, adalah perempuan yang kesehariannya memeroduksi kripik bentul. Kripik bentul buatan warga Jalan Jokotole Pamekasan ini telah berhasil menembus pasaran kota-kota di pulau Madura. Sebagian lagi, kripik bentul racikannya telah berhasil tembus di kota besar Jawa seperti Malang, Surabaya, Bandung dan Yogyakarta.
Apalagi, kripik bentul buatan Sri Warninda kebanyakan dipesan pejabat di Pamekasan. Dan, banyak pelancong untuk dikirim sebagai buah tangan bagi koleganya di luar daerah.
Sri Sabtu, menceritakan Kamis, (14/2), tahap awal sebelum mengolahnya, Sri mendatangkan bahan baku bentul dari Kecamatan Proppo, Pamekasan. Dia mengatakan, yang paling baik di buat keripik adalah bentul besar dan sudah tua.
"Setiap harinya saya membeli Rp 8 ribu per umbi. Yang mana, setiap produksinya saya membutuhkan lima pulh umbi bentul yang berbobot satu kuintal," katanya.
Dikatakan, proses pembuatannya sebelum digoreng, umbi bentul harus dipotong dari tangkalnya. Setelah itu, dikupas bersih dan dicuci.
"Setelah proses ini baru di iris-iris dengan mesin pemotong," ungkapnya.
Irisan setebal dua mili ini, sambung Sri, lalu direbus di atas air mendidih. Sebelumnya, air mendidih ini dibumbui garam dan bawang putih.
"bumbu inilah yang membuat keripik bentul yang membuat cita rasanya berbeda," jelasnya.
Setelah semuanya siap, kini umbi rebus yang sudah diiris dan dicampur dengan bumbu siap digoreng. Gorengan kripik ini lalu dikemas ke dalam plastik kemasan seperampat kiloan.
"Ah ini setiap kantong plastik kripik bentul dilepas seharga Rp 10 ribu," paparnya.
Ia menambahkan, kripik bentul buatannya ini tidak pernah memakai bahan pengawet. Dirinya hanya menggunakan garam dan bawang putih. Namun, kenapa enak? Dirinya menceritakan, bahwa keripik bentul buatannya selalu menggunakan ubi yang segar yakni baru di cabut dari tanah.
"Jadilah kripik ini bisa bersaing di luar Madura. Yakni Malang, Surabaya, Tuban, Jogja dan Jakarta," terangnya.
menurut Erfan, suami Sri mengatakan, kelebihan kripik bentul buatan istrinya terletak pada rasanya yang gurih. Yakni, tidak lembek saat digoreng. Dan, di bagian dalam bentul terdapat serat warna warni yang halus.
"Serat inilah yang membuat cita rasanya lebih gurih," pungkasnya.
Saat ini, kripik bentul menjadi salah satu camilan khas Madura.Kripik ini selalu menjadi buah tangan warga Madura yang akan bepergian ke Jawa.(Hrs)
|
indosiar.com, Madura - Anda penikmat camilan kerupuk? cobalah sekali waktu singgah ke Madura dan mencicipi krupuk khas masyarakat setempat. Krupuk tanggug, krupuk dari singkong yang berukuran raksasa karena sebesar tanggug atau topi caping para petani.
Tidak seperti kerupuk pada umumnya. Kerupuk tanggug berukuran raksasa. Kerupuk yang menjadi camilan khas masyarakat Madura ini berukuran lebar sekitar 40 centimeter dengan panjang sekitar 80 centimeter. Wah.. besar sekali ya? Tak heran untuk bisa mengoreng kerupuk ini dibutuhkan pengorengan khusus yang juga berukuran besar.
Konon kerupuk ini dinamakan tanggug karena ukuran kerupuk yang menyerupai caping atau topi lebar yang dipakai petani saat menggarap sawah. Kerupuk ini dibuat dari tepung sagu. Sagu yang dipilih adalah sagu hasil perasan singkong yang dikeringkan.
Sagu ini diberi air secukupnya lalu dimasak diatas tungku api kayu bakar. Setelah bubur sagu masak, dilakukan pencetakan kerupuk diatas daun pisang lalu dijemur. Maka jadilah kerupuk tanggug siap digoreng.
Setiap lembar kerupuk tanggug dijual seharga 2 ribu rupiah. Dalam sehari Ema mengaku bisa menghasilkan 100 lembar kerupuk tanggug goreng. (Tim Liputan/Sup)
|
The Jakarta Post , Jakarta | Sun, 04/08/2007 3:05 PM | Life
Tim Hannigan, Contributor, Madura
Tell the average Indonesian that you're going to Madura for a holiday and he'll laugh.
Then, as the realization that you're not joking dawns, jaws will drop; concerns may even be expressed for your safety.
Madura rides like a ship at anchor just off East Java's north coast. It is as big as Bali and rich in culture and sights, but it has a terrible reputation and no one visits.
It was the tales of filthy towns and villages, aggressive, rough-spoken people and infernal heat (all from people who had never been there) that made me determined to go and see for myself.
So, one Saturday morning I rode my motorbike to Surabaya's Tanjung Perak port. As the ferry slipped across the busy channel the grim silhouette of the docks fell behind and a more attractive coast of dense forest took shape ahead.
The dire warnings of Indonesian friends faded in my ears. Twenty minutes later I was breathing in clean air as I rode between sweeping rice fields.
Lush fields, deserted beaches
The road from Kamal to Sumenep, my destination at the eastern end of Madura, stays close to the coast, winding through broad vistas of rice fields, and stretches of cool forest.
Limestone outcrops rise among the hills that form the center of the island, and there are neat and delightfully friendly villages of red roofs hidden in the trees.
The journey was a pleasure as I skirted fishing villages, made detours down narrow lanes, and paused to chat with happy, easy-going locals. All the way to Sumenep I wondered why such a beautiful, charming place had such an awful reputation.
Sumenep is undoubtedly the nicest place to stay in Madura. It is a charming town of quiet streets where brightly decorated becak (pedicabs) roll by.
The great gateway of the Agung Mosque glowed in the sunlight next morning. Its heavyset, tiered faade was painted white, and edged in yellow, and a narrow passageway led to an elegant mosque with a three-tiered roof and a cool, airy interior.
It is one of the oldest mosques in Java, built in the 18th Century, and certainly one of the most striking. From the mosque I made my way across Sumenep's central square to the old palace or kraton (the last remaining in East Java province).
It was a quiet spot of high ceilings and soft breezes. A young man, Yanto, who worked in the nearby museum showed me around.
He pointed out a huge, sprawling banyan tree in the garden which was already standing in the 18th Century when the kraton was built. He also led me to the Taman Sari, a compound of pools and gardens where the women of the royal household used to bathe.
The baths are empty now, but for a few large goldfish, and Yanto told that at night the garden was haunted by ghosts. After a visit to the old royal cemetery at Asta Tinggi on a hilltop just outside the town where the faithful come to pray, and a quick stop in the bustling Pasar Anom market, I set out east on a deserted road.
The countryside was even more gorgeous than the day before, the forest now dominated by tall coconut palms, and the rice fields greener and richer, touched with a film of light mist.
The road ran close to the coast, and often by picking through the trees I found deserted beaches where a strip of tilting palm trees bent away and the shapes of small islands showed offshore.
At lunchtime I reached Lombang Beach, where a vast stretch of yellow sand backed by a bank of casuarinas trees faces a broad sea.
There were a few warung (food stalls) under the trees and I ate a bowl of tasty soto, Madura's most famous dish. It is a yellow soup with a delicious, lemony flavor mixed with rice, vegetables and shredded chicken.
Beyond Lombang the coastline hardened as the central ridge of limestone pushed up against the coast. The soil was thinner here and ribs of gray rock showed through the surface.
The villages were fewer, and there were many spots where a patch of clean beach lay utterly empty close to the road.
As I drove I asked myself over and over why this beautiful landscape was not crawling with tourists. I was glad that it wasn't, but baffled none the less.
Big-city gridlock a world away
That evening back in Sumenep I met a charming young man named Adi. A native of Sumenep, he works for the local tourism department and also acts as a guide.
He was a mine of information, whetting my appetite for a return visit with tales of all the places I had missed, and tantalizing talk of deserted islets of pure white sand and crystal-clear coral seas in the sprawling Kangean archipelago east of Madura.
He had his own theory about Madura's terrible reputation. Most outsiders form their opinion from the large numbers of Madurese migrants who have left the island in search of work.
Madura is beautiful and tranquil, and its people are laid-back and friendly.
Coming from such a place, Adi claimed, the clamor and chaos of the big cities of Java and beyond disturbs and unsettles the Madurese, and they respond with ill-temper and harsh words, a poor advert for their homeland.
The theory had some merit: after just two days in Madura I was relaxed and unwound, but the very thought of Surabaya gridlock was enough to sharpen my temper!
The next morning I crossed the central ridge where villagers were plowing fields of rich red earth with teams of cattle the same color as the soil. I reached the northern coast road at Slopeng village.
Here a great bank of sand knitted with palm trees, shelters the road. But stop anywhere and scramble up the dunes and you will meet a glorious panorama of empty beach, stretching far in each direction, and a shining blue ocean scattered with fishing boats.
Adi had told me that this area was famous for topeng, the carved masks used in the dance versions of the Mahabharata and Ramayana epics.
After an enjoyable wild goose chase through palm groves and rice paddies in the bright sunlight I found the hamlet of Tajjan where Pak Suraji, a topeng-maker lived.
As I sipped delicious green tea, a Madura specialty made from pandanus, he showed me his collection of masks, all carved from the local bintaos wood and skillfully painted in bright colors.
There was snub-nosed Semar the clown, hideous Ravana, handsome Arjuna, and a multitude of others. Pak Suraji told me that the masks had been made in the area for centuries, the skill passed from generation to generation.
His collection was not for sale: They were heirloom pieces used on the occasions when the villagers stage a dance, but in another hamlet nearby I bought a mask of Arjuna, decorated in fine red and black.
Madura is proudly Muslim. Arabic names are common and as you drive along the back roads you will pass men collecting donations for new mosques, and schoolboys in black peci caps walking home from village pesantren (religious schools).
But people in Java had painted a picture of something approaching Taliban-era Afghanistan. The high Hindu-culture of the topeng dances, and tales Adi had told of southern villages where spectacular Balinese-style ceremonies are held, proved that this was not the case.
Irresistible batik
The road west ran through friendly fishing villages where brightly decorated boats were moored in narrow inlets. I stopped several times to swim in the warm waters off deserted beaches. The hills were green to the south and running cloud dappled the sea with purple and turquoise.
In mid-afternoon I reached the village of Tanjungbumi. Back from the road a warren of white-washed alleys clustered around a glittering mosque.
In a cool courtyard of shade and broken sunlight I admired exquisite batik sarongs, the work of Hajji Affandi, a kindly, soft-spoken man.
Madura batik is famous, characterized by motifs of flowers and birds, with hints of Chinese art. The best pieces are made of silk, and painstakingly decorated by hand, sometimes taking several weeks to complete.
Tanjungbumi is one of the centers of batik-making, and there are many workshops hidden in the white alleyways.
I had not intended to buy anything, but one piece, an intricate spread of birds and flowers in rich reds and greens was the most gorgeous batik I had ever seen: I was unable to resist.
My special souvenir safely in my bag, I rode on. As the land softened and the hills fell away I turned south again.
Here, elegant new mosques stood beside the road. They were far more pleasing than the modern mosques of Java, and I stopped beside one particularly startling Mughal-style building.
A jolly man, Pak Suni, led me to the rooftop. I was not far from the port at Kamal now, bringing my journey full circle. As I looked out over the colored plain of rice fields and villages, the sea shining golden in the lengthening light, the hills dark behind, I wondered why it had taken me so long to come to this marvelous place.
Half an hour later, as the ferry slipped over the murky brown water of the channel back towards the grimy smudge of Surabaya I was certain of two things: I would be back to Madura before long, and the next time I heard someone bad-mouthing the place, I would be sure to set them straight!
|
| |
Madura, East Java, Indonesia, have a famous Batik called Batik Madura. This kind of Batik characterized by motifs of flowers and birds, with hints of Chinese art. The best pieces are made of silk, and painstakingly decorated by hand, sometimes taking several weeks to complete.
People classify batik of Madura as seashore batik. It’s have a special characteristic. Batik Madura’s motif most about life and environments, mostly taken from as animal and plant motif, such as birds, butterfly and flowers. |
There is no soft gradation color in Batik Madura, all colors are bold and clear. Again, nature of typically Madura drawn clearly, namely Brave. Motif and details used in Batik Madura represented the battle of Madura’s people to reject domination of King from Java in the year of thousand and six hundreds.
Color that used in Batik Madura mostly taken away from natures, for example to get red color people actually using color from cactus. The old green is taken from tree of mondo, and also black color which represent mixture from red and green. Some people says that this color represented the attitude of Madura People that consistent.
|
|
Pada awalnya, perajin keramik desa Kasongan melakukan kegiatan untuk membuat barang-barang gerabah yang berfungsi untuk memenuhi keperluan rumah tangga sehari-hari. Perkembangan selanjutnya, sebagai akibat pengaruh eksternal dan internal, maka terjadi perubahan dari pembuatan gerabah untuk keperluan rumah tangga sehari-hari berkembang menjadi cinderamata yang berciri khas untuk mmenuhi kebutuhan wisatawan.
Menurut Drs Timbul Raharjo MHum perubahan mendasar produk seni kerajinan keramik Kasongan itu terletak pada pola dekorasi berupa teknik tempel yang berkembang cukup pesat. Teknik tempel ini adalah teknik menghias badan keramik dengan cara tanah liat dipilin kemudian ditempel satu per satu pada badan keramik sehingga terlihat unik dan ngremit.
Teknik tempel ini, katanya, jarang dilakukan pada sentra seni kerajinan keramik di tempat lain. Teknik ini memberikan daya tarik tersendiri, karena memiliki karakter produk yang spesifik dari hasil proses dekorasi.
"Teknik tempel menjadi trade mark produk seni kerajinan keramik Kasongan. Fakta inilah yang menyebabkan produk seni kerajinan keramik Kasongan dikenal oleh masyarakat konsumen di berbagai penjuru dunia," ujat Timbul, Senin (21/7) di ruang seminar Sekolah Pascasarjana UGM.
Dosen Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta menyampaikan hal itu saat melaksanakan ujian terbuka program doktor Ilmu Antar Bidang Pengkajian Seni Pertunjukkan dan seni Rupa UGM. Promovendus mempertahankan desertasi "Seni Kerajinan Keramik Kasongan Yogyakarta di Era Globalisasi : Perjalanan Dari Dusun Gerabah Menjadi Sentra Seni Kerajinan Keramik Yang Mendunia" dengan bertindak selaku promotor Prof Dr RM Soedarsono dan ko-promotor Prof Drs SP Gustami SU.
Dikatakan, meski terdapat kecenderungan global, seperti membanjirnya produk sejenis asal Cina yang memasuki pasaran Indonesia, namun barang-barang impor tersebut belum mampu menyaingi produk seni kerajinan keramik Kasongan.Produk seni kerajinan keramik Kasongan memiliki gaya seni yang khas, yang tidak dibuat di tempat lain.
"Uniknya pembeli dari luar negeri selain menyukai produk keramik dengan desain lokal, juga memesan produk keramik sesuai dengan selera mereka. Bahkan diantara mereka membawa contoh desain produk dari negeri asalnya yang memiliki nilai jual seperti patung Budha, patung tentara Cina, guci, pot dan sebagainya," jelasnya.
Lebih lanjut Timbul mengungkapkan seni kerajinan keramik Kasongan memiliki kemampuan dan prospek yang signifikan untuk bersaing di era globalisasi. Dampak globalisasi terhadap kehidupan sosial masyarakat desa Kasongan meliputi pola tingkah laku, kehidupan keluarga, pendidikan, tatanan sosial dan penglaris.
"Dampak positif dan negatif tentu ada, namun yang jelas masyarakat Kasongan sadar mereka hidup sangat terkait dengan perdagangan global. Dampak terhadap produk seni kerajinan keramik meliputi desain, teknologi, dan pasar. Fiperoleh hasil bahwa desain dan pasar selalu berjalan seiring dan seimbang," ungkap Timbul yang dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude dan menjadi doktor ke-962 yang diluluskan UGM. (Humas UGM)
sumber : http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=1451
|
| It was only the other day I was admiring the various pieces of batik that I had appropriated over the many years of travelling in the archipelago and in particular those pieces from Java. The motifs, superb in their design whether it be that of geometric forms or those that have a natural significance such as flowers, leaf buds, butterflies, insects or fish are renowned the world over. Indonesian textiles are in big demand worldwide and outside of Asia, the cloth is gaining a reputation as a fashion form. Batik truly is the fabled cloth of Java. Surrounding this cloth are legends steeped in history and mysterious. Batik is art in the purest sense of the word. Batik is a reflection of Javanese culture with its diversity of patterns, colours and textures.
There are basically two types of batik you can purchase – the printed or batik cap, and batik tulis where the patterns are dyed into the cloth are drawn with a canting. If you are after quality batik then the latter is the best to purchase. There are numerous cities and towns across Java that produce their own unique pattern or design and here are five of them.
Yogyakarta: Located in Central Java and renowned as the cultural heart of the island, their designs are numerous and the city is famous for its textile production. The predominant colours are brown, indigo and white. One of the most beautiful pieces of batik are those with the grompol motif and is distinctively a Yogya design. Used mainly for weddings and ceremonies, the pattern symbolises the coming together of all goods things, such as luck, happiness, children, and harmonious married life. Yogyakarta is also well known for batik paintings all of which you will find along Jalan Malioboro, Beringharjo Markets and in the numerous batik galleries spread out across the city.
Surakarta (Solo): Located sixty kilometres to the east of Yogyakarta, the ancient city of Surakarta has one of the finest batik markets on the island – Pasar Klewer. The batik of Surakarta is rich in creams and browns with tinges of yellowish gold. Of particular note are the stunning floral and bird designs, worthy of hanging on your wall to be admired! Surakarta is city of long-standing in batik production and many buyers prefer to buy their batik here than in Yogyakarta. The peculiar local style of batik is solo malam, bright colours against a black background. There are a few places in Surakarta where you can learn the art in batik courses.
Pekalongan: The town has always played a leading role in the production of batik on the island and also in the development of modern batik design. The batik produced here is absolutely stunning with the use of bright bold colours and natural figures being prominent such as red and blue birds and flowers on pink or white backgrounds. The batik is soft both in texture and design and has prices to match its beauty. There are numerous batik factories in Pekalongan and it worth visiting a few of them to give you insight into the production.
Cirebon: Located on the northern coast of Java,Cirebon’s batik is known as Kencana Ungu and is a batik made of finely woven cotton. Because of the large indigenous Chinese population, the motifs found in their batik are predominately Chinese in origin. Motifs include tigers, dragons, elephants and lions. As with most Chinese paintings, the ubiquitous rocks and clouds can also be found in their batik design and this batik form has eight colours. Interestingly, Cirebon was known as the few places where females did not draw the patterns on the batik before waxing occurred. Subsequently, the masculine and bold forms representing wide open spaces are prominent.
Madura: An island off the north-east coast of Java, Madura is renowned for its bull races but, also produces some fine pieces of batik known as Batik Madura and characterised by motifs of flowers and birds, with hints of Chinese art. The rich, bold mengkudu red, reddish browns or indigo colours have motifs of winged naga snakes, winged horses with fishtails, sharks and other strange animals. These ornaments taken from sea creatures are a reflection of the fishing profession. You will also find the influence of the northern Java coastal motifs such as flowers and birds. The Mataram Kingdom once had its power to this area and this influence can also be seen in batik Madura
source : http://www.indonesialogue.com/destinations/five-great-places-to-buy-batik-in-java.html
|
Siapa bilang abon Yogya hanya abon 37 di Wijilan? Males ke Wijilan, sumpek antre. Dan abon ini ga kalah rasa, kualitas dan harga. Yg bikin ibunya teman. Gangnya diseberang gang rumah kakakku, jadi cukup dekat. Diproduksi skala rumah di dalam perumahan, kiosnya dirumah juga, ga pake macet, ngantre kayak di Wijilan. Abonnya abon sapi. Kalau beruntung pas kesana mereka baru masak abon, bisa ngintip ngintip, dan bau harum abon dr samping rumahnya. Alamat. Jl. Kaliurang kilometer 5 (dariUGM, prapatan selokan MM UGM ke Utara yak, arah kalau mau ke Kaliurang, tapi jangan sampai liwati perempatan ringroad apotik Kentungan, itu mah bukan kilometer 5 lagi. Liat ke deretan nama2 Gang Jawa di sebelah kanan (klo dr arah UGM), namanya : gang Grompol no 16.
sumber : http://milanapandanwangi.blogspot.com/2009_01_01_archive.html
|
PAMEKASAN - Maraknya batik impor yang masuk ke Gerbangsalam mengancam batik produk lokal. Pasalnya, batik impor lebih murah daripada batik lokal.
Untuk diketahui, dengan motif yang sama harga batik impor dijual seharga Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu/potong. Sedangkan batik lokal di atas Rp 40 ribu/potong. Perbedaan tersebut disebabkan hasil produksi. Batik lokal dibuat secara manual (tulis dan cap) membutuhkan waktu lama. Sedangkan batik impor dengan metode printing mampu memproduksi berkali lipat dibanding produk batik lokal.
Kepala Disperindag Atok Suhariyanto mengakui jika batik impor (Cina dan Korea) sudah beredar di Pamekasan. Dia menunjukkan batik impor yang bermotif sama dengan batik Pamekasan. “Sampai saat ini kita memang belum memiliki hak paten atas motif batik karya saudara sendiri,” ungkapnya kemarin.
Namun dirinya meyakini jika batik lokal bersegmen pasar tertentu. Sebab, dari segi kualitas batik lokal tidak tertandingi batik printing baik dari Cina maupun Korea. Menurutnya, batik printing hanya memiliki satu sisi lukis. Sementara batik lokal, kedua sisi kainnya berwarna bagus. Di samping wangi malam (istilah untuk produk batik lokal), batik tulis sangat khas. Terkait hak paten, dirinya mengaku belum bisa melakukannya saat ini. “Karena anggaran yang ada sangat terbatas, kami terpaksa menunda proses pembuatan hak paten motif batik hingga 2010 nanti,” pungkasnya.
Kristina, salah satu penjaga stand di pasar batik mengaku batik lokal biasanya menggunakan bahan premis, kaci, mori dan sutra. Untuk bahan yang terakhir, saat ini produksinya mulai jarang. Hal itu disebabkan harganya yang sangat tinggi. Yakni Rp 3 juta untuk satu bahan baju. Untuk bahan yang lain, harganya di atas Rp 40 ribu. Dia mengaku pasar batik mulai sepi bukan karena batik impor. “Tetapi karena sementara ini pembelinya sepi,” paparnya. (c14/abe/rd)
Sumber : Jawa Pos
|
PAMEKASAN - Batik pada umumnya dikenal dalam bentuk kebaya, baju selendang dan sebagainya, selain itu batik di Pamekasan juga termasuk satu produk unggulan Pamekasan.
Namun, dengan pesatnya perkembangan zaman dan semakin meningkatnya kreatifitas masyarakat terutama golongan remaja, batik tidak lagi hanya dikenal sebagai pembungkus tubuh atau hanya sekadar memperindah penampilan saja, melainkan bisa dijumpai beragam bentuk dan corak.
Seperti kreatifitas yang ditunjukkan para siswi salah satu Madrasah Aliyah di Pamekasan misalnya. Mereka memanfaatkan limbah potongan batik untuk dijadikan bunga dengan beragam jenis dan warna.
Selain biayanya murah, untuk mendapatkan bahan bakunya juga cenderung mudah, sebab tinggal meminta atau membeli dari tukang jahit . Tentunya dengan harga supermurah.
“Tidak membosankan dan bahan bakunya gampang serta murah, dan tidak memerlukan waktu yang lama,” kata salah satu peserta Sri Handayani, siswi kelas X tersebut.
Caranya mudah, limbah batik yang telah dikumpulkan dipotong dengan bentuk persegi panjang dengan lebar variatif tergantung besar kecilnya bunga yang akan dibuat, termasuk panjangnya menyesuaikan dengan limbah yang ada.
Setelah dipotong, limbah batik yang telah berbentuk persegi panjang dibentuk sesuai pola yang diinginkan, selanjutnya bambu yang telah dipotong dengan diameter sekitar 3 sentimeter dengan panjang antara 75 sentimeter sampai 1 meter.
“Bambunya dililit dengan limbah batik juga sehingga tidak terlihat bambu, sedangkan limbah batik yang berbentuk bunga diikat di bagian atas bambu tersebut,” kata pembina kesenian sekolah tersebut, Candra Kirana.
Selain untuk menumbuhkan kreatifitas siswa, keterampilan dari bahan limbah tersebut juga sebagai bekal setelah lulus dari dari sekolah,” tuturnya kemarin.
Hasilnya, selain menakjubkan karena terkesan berkualitas bagus, mereka juga tampak puas dengan karyanya tersebut, bahkan di antara mereka ada yang berniat akan menggeluti dunia handycraft itu kelak setelah lulus. “Insya Allah saya akan geluti ini (kerajinan) kalau tidak melanjutkan kuliah,” ucap Adi. (nam/rd)
Sumber : Jawa Pos / 22 Februari 2009
.
|
Jamu Madura
Jamu atau lazim disebut herbal adalah ramuan tradisional yang terbuat dari bahan-bahan alami seperti tanaman dan juga bagian tubuh hewan. Lahirnya jamu ini melewati proses yang sangat panjang, leluhur kita melakukan percobaan jamu melalui proses amat berat dan lama. Setelah itu hasilnya langsung diterapkan ke manusia. Dan justru laboratorium hidup seperti inilah yang dasyat.
Banyak orang mempercayai manfaat jamu. Daun sirih misalnya, sejak lama dipercaya berkhasiat sebagai antikuman. keunggulan ini baru diketahui belakangan, ketika dunia mengenal penelitian di bidang anti septik.
Menurut Prof Dr. Effionora Anwar, MS dari departemen Farmasi Universitas Indonesia perkembangan jamu yang kian pesat adalah disebabkan oleh 3 hal. Yang pertama adalah, makin banyaknya yang tertarik untuk meneliti bahan-bahan alami. Kedua, makin banyak orang yang mempercayai khasiat bahan alami. Dan ketiga, gaya hidup back to nature yang melanda dunia.
Menyebut kata Jamu, yang terbayang dalam benak kita adalah ramuan godokan yang pahit. Tapi itu dulu, kini banyak jamu yang dibuat kemudian dikemas secara praktis, dalam bentuk instan, kapsul, kaplet. Semuanya demi kemudahan gaya hidup orang modern.
Karenanya tak heran jika kini herbal kita, kian bersaing dengan herbal dari luar negeri. Bahkan jamu herbal kita sudah banyak di berdar dan dipakai ke manca negara.
Begitu juga dengan Jamu tradisional Madura. Sejak beratus-ratus tahun yang lalu perempuan madura telah melakukan penelitian. Tak hanya jamu yang berkhasiat untuk menyembuhkan pelbagai penyakit tetapi juga jamu-jamu tradisonal lainnya yang khusus diperuntukkan untuk kebahagian suami istri, seperti jamu Sari Rapet, Jamu Empot, Jamu Kembali Gadis dan lain sebagainya. Bahkan Wanita Madura juga menemukan rahasia terhebat dan menerapkannya dalam bentuk Jamu Tongkat maupun sabun tradisional.
Memang di dalam negeri belum banyak dilakukan penelitian terhadap jamu-jamu tradisional madura, namun di negara lain sudah ada penelitian-penelitian tersebut. Kini jamu madura kian menjamur di negara-negara lainnya seperti Jepang, Malaysia, USA, Qatar, Mesir, Filipina dan negara-negara lainnya.
Sumber : http://madurastore.blogspot.com/2008/12/jamu-madura-melintasi-jaman.html.
|
| Ramuan Madura makin digemari di mancanegara. Di negeri Belanda, Bangkok, Taiwan, dan Turki, misalnya, jamu dari Pulau Garam itu sangat laris. Mengapa mereka tertarik pada ramuan Madura? Berikut penuturan suami istri Wahyudi-Rosiana yang berpengalaman memasarkan jamu warisan nenek moyangnya di beberapa negara itu.
Jamu Madura punya sejumlah nama dengan khasiat yang berbeda-beda. Dari sekian nama itu, menurut Ny Ana - panggilan Rosiana -, jamu Tongkat Asli Madura sangat laris di Bangkok. Jamu buatan Joko Tole ini dipromosikan bisa membersihkan alat khusus kewanitaan dengan membunuh beragam bakteri yang biasa ngendon di alat rahasia wanita ini.
Bahkan, jamu ini juga dipercaya bisa menghilangkan keputihan dalam sekejap - hanya lima menit -, mengeringkan, dan mengembalikan keperawanan wanita. Bukan mengembalikan keperawanan dalam arti biologis. "Tapi, pada rasa. Pengusaha Bangkok yang menjadi mitra kami itu memesan 100 ribu buah per bulannya. Tapi, kami baru bisa memenuhi separonya," kata Wahyudi yang kemarin didampingi istrinya, Ny Ana.
Tak hanya Bangkok yang gandrung produk Joko Tole ini. Belanda, Turki, Taiwan, dan Hongkong pun menggandrunginya. Bahkan, produk Joko Tole bisa dibeli di Toko Java Amsterdam, Belanda. Tepatnya di Burg V. Leewenlaan 34, 1064 KT, Amsterdam-Slotermeer.
Yang menarik, kata Ny Ana, saat mereka diajak pameran di Turki awal September lalu. Di negeri ini, jamu-jamunya - khususnya jamu keperkasaan lelaki dan jamu-jamu kewanitaan - laris bak kacang goreng.
"Bahkan, waktu di Turki itu ada yang memborong jamu-jamu saya. Katanya untuk dijual lagi. Sayangnya, kami kesulitan berbahasa Turki sehingga transaksi lebih lanjut sulit kami lakukan. Tapi, di sana kami dibantu Jawa Pos juga lho. Sebab, Pak Ramadan Pohan (wartawan Jawa Pos yang ngepos di Bulgaria dan sering ditugaskan ke Turki, Red), banyak membantu kami menerjemahkan keinginan dan pertanyaan para pengunjung pameran," katanya.
Selain "tongkat madura", produk Joko Tole yang juga laris khusus untuk wanita adalah jamu Sari Rapet Legit Madura, Empot-Empot Sepet Madura. Sedangkan, jamu kaum Adam, kata Ny Ana, yang paling laris adalah jamu Perkasa Lelaki Ma'jun dan Kopi Keramat. "Kopi Keramat ini jamu rasa kopi. Khasiatnya, selain untuk keperkasaan, untuk kesehatan karena jamu ini bisa mengusir masuk angin dan sebagainya," jelasnya.
Brand name ramuan Madura, kata Gubernur Basofi Soedirman, memang sudah diakui. Bahkan, banyak beredar guyonan khas di seputar jejamuan Madura ini. Untuk mengibaratkan manjurnya "tongkat madura", ada anekdot yang mengatakan, bila benda ini kecemplung sumur, sumurnya akan kering seketika.
Basofi juga punya anekdot lain yang tak kalah mengundang senyum simpul, tentang ramuan Madura ini. Suatu ketika, kata Basofi, ada seorang jurkam yang ingin mencoba khasiat jamu Madura. Maka, dia minum Sari Rapet sebelum naik panggung. Tetapi, ketika waktunya kampanye, si jurkam tak bisa membuka mulut sama sekali. "Selidik punya selidik, ternyata jamu itu dimut dulu sebelum ditelan. Akibatnya, mulutnya ikut rapet. Inilah kehebatan ramuan Madura," katanya di Grahadi, dalam suatu acara. Tentu saja, guyonan Basofi ini mengundang gelak tawa hadirin
Jawa pos, 30 November 1997
|
|
| |
|
|
|
|